04/07/15



Maulana Siddiq
“Menembus Keterbatasan dengan Menabuh Drum”

Maulana Siddiq
Sejatinya, hidup adalah perjuangan. Keterbatasan yang kita miliki bukan menjadi pengahalang untuk menuju kesuksesan. Karena keterbatasan adalah untuk di hadapi, dengan semangat dan keyakinan.



                Seperti sosok yang satu ini. Keterbatasan yang ada pada dirinya tidak membuat ia berdiam diri. Ia tetap semangat dalam hidup. Menembus keterbatasan yang ada, dengan mengukir prestasi yang membanggakan. Maulana Siddiq, penyandang Tuna Grahita.  Pemuda kelahiran Medan, 13 Maret 1995 ini adalah seorang yang ceria dan bersahaja.


            Pagi itu gerimis tipis turun perlahan. Ketika menemui Maulana di sekolahnya. Tepatmya di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Jl. Adinegoro No. 2 Medan. Ia tengah sibuk melayani pembeli yang datang. Maklum saja, ia sedang berada di kelas wirausaha. Maulana, dan temanya bertugas untuk menjaga pada saat itu.

            Maulana anak sulung dari pasangan Dwi Anto dan Rina Ardiani. Dari kecil Ia tinggal bersama andung dan atoknya, yang kini berdomisili di Jl. Nilam 11 No 8, Perumnas Simalingkar.  Pemuda yang mengaku menyukai warna hitam ini, adalah seorang yang pendiam dan sedikit pemalu. Terbukti ketika diajak berbincang, ia malu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Asmidar, guru Maulana pun mengakui hal tersebut.

            “Maulana ini orangnya pemalu, dan pendiam. Kalau di tanyai banyak senyumnya. Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain. Tapi anaknya rajin. Walau di akademiknya kurang, tapi untuk kelas keterampilan ia selalu lebih unggul dari kawan- kawannya yang lain” tutur Asmidar.

           

Menempuh Pendidikan Disekolah Reguler dan Khusus

            Pemuda yang nge-fans dengan Ikmal Tobing, drummer Maha Dewa ini adalah anak yang mandiri. Berangkat sekolah dan pulang ia sendiri. Maulana kecil sempat duduk di sekolah reguler. SD Muhammadiyah, dan Tsanawiyah Sawit Sebrang. Tamat tsanawiyah, ia pun masuk di YPAC. Di YPAC ia kembali duduk di bangku SMP. Setelah lulus, ia lanjut di sekolah yang sama dan sampai sekarang. Ia telah duduk di bangku kelas XI. Maulana mengaku ada perbedaan ketika ia berada di sekolah umum dan saat ia berada di sekolah khusus. Mulai dari proses adaptasi terhadap lingkungan, teman-temannya dan juga mata pelajarannya. Di sekolahnya terdahulu ia mengaku mendapat sedikit teman. Banyak anak yang menghindarinya. Di karenakan keterbatasannya. Dalam pelajaran iya juga banyak tertinggal. Namun, di YPAC ia mendapatkan banyak teman. Herbet, Samuel, Ari dan Bonar adalah sahabat terdekatnya. Bahkan, ia telah menemukan tambatan hatinya. Malu-malu Maulana pun hanya mengangguk dan tersenyum sambil membenahi letak kaca matanya.

            “Beda. Dulu, kawan saya sedikit. Sekarang jauh lebih baik. Kawan-kawan dekat saya disini Herbet, Samuel, Ari dan Bonar. Kami juga buat band, namanya YPAC Band.” ujar Maulana malu-malu.

 

Mengukir Prestasi

            Dum, dum, dam.. dum, dum, dam…

            Maulana menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Sewaktu berada di kelas musik. Dengan piawai ia membawakan lagu Munajat Cinta. Ia pun menikmati alunan drum yang di tabuhnya. Menggerakkan badan dan kepalanya. Maulana bersama kawannya telah membentuk YPAC Band, dan ia sebagai drummernya. Dari sana pula ia mengukir prestasi yang membanggakan. Menjadi juara 2, sebagai solo drummer untuk tingkat provinsi. Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi pemenang untuk workshop ICT yang di adakan di Berastagi, merakit CPU. Kemudian Khatam Al’Quran, dan mengaji lagu. Di groupnya, ia dikenal sebagai sosok yang ramah, baik dan setia kawan.  

“Mualana anaknya ramah, baik dan setia kawan. Mau berbagi sama kawannya yang lain, waktu latihan juga” papar Herbet, teman sekelasnya yang juga vokalis YPAC Band.

            Setengah harian mengikuti aktifitas yang dilakukan Maulana di sekolah. Mulai dari kelas wirausaha, kelas kerumahtanggan dan kelas pertanian. Untuk bidang keterampilan yang ada di sekolah ia cukup menonjol dan unggul. Jika ada kesempatan waktu, ia ingin sekali ke Jakarta dan melihat monas secara langsung. Untuk cita-cita, ia juga memiliki mimpi yang besar. Menjadi seorang TNI. Semoga apa yang ia harapkan dapat terwujud. Aamiin.


            Maulana adalah sebagian kecil dari banyaknya anak-anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang dapat berkarya dan berprestasi. Maulana memilih untuk berbuat dan berkarya daripada duduk diam dan merenugi nasib yang ada. Semoga Maulana dapat menjadi inspirasi kita semua untuk dapat berbuat lebih. Dengan apa yang kita punya dan kita miliki. Bahwa keterbasan bukan penghalang kita untuk berbuat sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Bahwa Anak Berkebutuhan Khusus juga berhak mendapat kehidupan yang sama dan setara diantara kita.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Google+ Followers

Blog M

BLOGger Medan